BELAJAR YANG MENCERDASKAN

Kita mengubah dunia lebih cepat dari kemampuan kita mengubah diri sendiri dan kita menerapkan pada masa kini kebiasaan masa lampau (Winston Churchill)

 

Menjelang mengakhiri masa kuliahnya di Universitas Gajah Mada, justru membuat Andreas Harefa – penulis buku best seller “Menjadi Manusia Pembelajar” — memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kakinya di kampus. Gelar Sarjana Hukum yang sudah hampir diraihnya, terpaksa ia lupakan untuk selamanya. Saat itu merupakan puncak dari akumulasi kekesalannya pada metode pembelajaran yang ia dapatkan di kampus, yang mana kampus justru malah memberangus kreativitas dan memasung keberanian untuk melakukan eksperimen-eksperimen inovatifnya. Begitulah yang ia rasakan. Sekolah menurutnya belum mampu membuatnya mampu menjadikan dirinya memahami hakikatnya sebagai manusia.

Apa yang dialami oleh Andreas Harefa, bisa jadi juga kita alami saat ini. Walau kita sudah bersekolah dan bahkan menamatkan pendidikan kita sampai dengan jenjang Sarjana atau bahkan Master, bisa jadi juga belum membuat kita lebih cerdas dan memahami hakikat penciptaan kita di dunia.

Proses belajar sejatinya mengubah seseorang menjadi lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Semakin lama ia belajar, semakin bertambah pula nilai dalam dirinya yang kemudian diikuti dengan pemahaman. Sehingga dengan pemahaman yang ia miliki itu, ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, akan tetapi realitanya ada yang berbeda.

Misalnya, bisa banyak dibaca di berbagai surat kabar tentang kasus-kasus korupsi. Hampir sebagian besar pelaku-pelakunya adalah orang-orang yang cukup memiliki keilmuan yang memadai, bahkan mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ditambah dengan kasus-kasus penyalahgunaan jabatan, juga dilakukan oleh mereka-mereka yang bisa dibilang sebagai orang terpelajar. Contoh yang lebih sederhana lagi, jika kita perhatikan di perempatan jalan saat ini, begitu banyak orang yang melanggar lampu merah tanpa memperdulikan itu dapat membahayakan orang lain dan dirinya atau malah membuat macet lalu lintas, meskipun mereka sudah diajarkan disekolah waktu kecil bahwa lampu merah itu tanda berhenti. Lantas dimanakah salahnya?

Kesalahannya bukanlah pada ilmunya, akan tetapi pada cara kita memahami semua ilmu yang kita miliki. Dengan pemahaman yang kita miliki itulah yang nantinya akan menentukan apakah ilmu akan menjadikan kita lebih baik atau malah membuat kita tidak berubah menjadi lebih baik dan malah sebaliknya.

Bukhori Nasution, seorang pengamat pendidikan, mengeluarkan pendapat yang cukup menarik bahwa “Seorang dikatakan terpelajar bukanlah ditentukan dari seberapa tingginya ia menempuh pendidikan, tapi ia bisa dikatakan terpelajar bila dengan ilmu yang ia miliki, ia mampu untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.”

Pendapat ini bisa pahami bahwa, seseorang yang bergelar sarjana atau doktor sekalipun belum dapat dikatakan orang yang terpelajar, sepanjang dengan keilmuan yang dimilikinya belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Sebaliknya seorang yang tidak sekolah tinggi sekalipun, selama kadar keilmuan yang dimilikinya mampu membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak, maka seseorang itu bisa dikatakan terpelajar. Ini bisa menjadi jawaban terhadap fenomena di atas.

Pendidikan selayaknya menjadi sebuah proses pembelajaran manusia untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, yang pada akhirnya membuat manusia makin memahami hakikat manusia yang senantiasa memiliki kecenderungan ke arah kebaikan, dan buah dari pemahaman itu adalah amalan yang baik. Rasulullah pun mengajarkan kepada kita bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Penulis : Purnawan Lukisworo (Guru Sekolah Rakyat Ancol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *